Angkat topi, acungkan dua jempol, dan berdecak kagum. Tiga itulah yang patut kita berikan kepada Persaudaraan Matahari, Nusantara Centre, dan Pusaka Indonesia atas terselenggaranya Pagelaran Pancasila Sakti: Menyalakan Api Pancasila di Sanubari Bangsa Indonesia pada hari Minggu, 1 Oktober 2023 lalu di Auditorium RRI Jakarta.

Betapa tidak. Di masa sekarang di mana orang-orang sibuk dengan politik praktis jelang Pilpres 2024, tiga elemen masyarakat ini berjibaku mempersembahkan sebuah karya besar yang menjadi pengingat bagi kita akan Kesaktian Pancasila dan situasi dan kondisi yang melingkupinya, baik pada masa lalu, maupun masa kini.

Pagelaran ini tidak hanya berdimensi seni, tetapi ada dimensi lain seperti politik, ekonomi, bahkan juga komedi. Meski tanpa sponsor, pagelaran dikerjakan dengan serius. Mulai dari tata panggung, kostum pemain, naskah cerita, hingga naskah orasi politiknya disajikan dengan baik dan tidak main-main. Penonton benar-benar dihibur dan disajikan kisah yang berakar dari sejarah Nusantara. RRI juga sukses menjadi tuan rumah yang baik dengan menyiapkan auditorium dan segala kelengkapannya dengan baik, sehingga acara bisa berlangsung dengan lancar.

Dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stanza, penonton diajak untuk menjaga api nasionalismenya. Kami yang berada di bangku penonton pun sigap berdiri dan turut bernyanyi. Setelah itu, Setyo Hajar Dewantoro, selaku pemimpin Persaudaraan Matahari serta Pusaka Indonesia, menampilkan Tarian Wilwatikta Binangkit yang merupakan karyanya sendiri.

Gerakannya sangat lentur dan indah, namun di sisi lain tampak tegas dan berwibawa. Ditambah dengan tampilan latar belakang panggung yang berubah-ubah menyesuaikan tema gerakan, suguhan tari tersebut terasa spektakuler. Saya bukan penari, tetapi saya bisa menilai bahwa gerakan-gerakan yang ditampilkan oleh Setyo Hajar Dewantoro betul-betul indah dan menggugah.

Terhibur dengan tarian, penonton diajak untuk berpikir revolusioner melalui orasi politik Prof. Yudhie Haryono, selaku Direktur Eksekutif Nusantara Centre. Prof. Yudhie mengingatkan kita kembali akan motif dasar dari datangnya bangsa asing ke Nusantara, yaitu untuk mendapatkan rempah-rempah.

Namun, keserakahan dan watak kapitalisme Eropa membuat orang-orang asing itu kian mendominasi bangsa kita. Tidak hanya mengambil rempah, mereka juga memperbudak rakyat, menguasai sumber daya alam, serta mempengaruhi ideologi bangsa. Hasilnya adalah inferioritas akut dan kronis terhadap bangsa asing yang kita derita hingga saat ini. 

Untuk itu, Prof. Yudhie mengingatkan kita untuk kembali kepada kesadaran Pancasila dan mengembangkannya menjadi sebuah peta jalan agar Nusantara kembali raya. Indonesia harus kembali kepada jati dirinya sebagai bangsa yang berketuhanan, berperikemanusiaan, bersatu, bermusyawarah dalam setiap masalah, serta berkeadilan sosial. Menutup orasinya, Prof. Yudhie mengajak hadirin untuk mengucapkan Sumpah Nusantara.

Diselingi berbagai hiburan berupa tarian dan nyanyian, pagelaran inti kali ini mengambil latar belakang era kejayaan kerajaan Majapahit, saat berkuasanya Ratu Tribuana Tunggadewi. Kala itu, dikisahkan bangsa asing mulai melirik Nusantara dan mulai melakukan perdagangan rempah-rempah.

Namun, belakangan bukan hanya berdagang, mereka juga ingin menguasai wilayah Majapahit. Ratu Tribuana Tunggadewi lalu memerintahkan Mahapatih Gadjah Mada beserta jajarannya untuk mengusir bangsa asing tersebut. Perang pun tidak terelakkan. Bangsa asing akhirnya terusir dan Majapahit sukses mempertahankan wilayahnya.

Kisah yang disajikan dalam pagelaran tentu bisa kita tarik benang merahnya ke masa sekarang, di mana Indonesia yang telah merdeka 78 tahun, kini menghadapi penjajahan gaya baru dengan besarnya utang negara, ketergantungan produk pangan dengan bangsa lain, carut marutnya penegakan hukum, maraknya kasus korupsi, dan lain-lain.

Solusinya hanya satu, yaitu kembali kepada Pancasila sebagai dasar negara, dan itu benar-benar disampaikan dalam ilustrasi yang epik dalam pagelaran kali ini. Sekali lagi, saya angkat topi, acungkan dua jempol seraya berdecak kagum atas kerja sama Persaudaraan Matahari, Nusantara Centre, dan Pusaka Indonesia. Salut!

Ryo Disastro
Penulis, tinggal di Depok